-->

Materi Tentang Aktivitas Membran Sel

Materi Tentang Aktivitas Membran Sel

Materi Tentang Aktivitas Membran Sel - Materi ini akan dibahas mengenagi Homeostasis sel, Translokasi materi melintasi membran sel. Semua sel dibungkus oleh suatu lapisan lemak tipis dan fleksibel yang memisahkan isi sel dan sekitarnya, yang disebut sebagai membran plasma. Demi kelangsungan hidup dengan tetap melakukan suatu proses metabolisme dan menjalankan aktivitas-aktivitas khusus, setiap sel harus melakukan pertukaran berbagai macam material dan zat-zat yang diperlukan melalui membran plasmanya yang bersifat selektif permeabel dengan lingkungan cairan internal di sekelilingnya yang secara homeostatik tetap terpelihara. Selektif permeabel disini yang dimaksud adalah membran sel dapat dilewati molekul tertentu sesuai yang dikehendakinya  Lapisan ini mengandung protein-protein spesifik, yang sebagian diantaranya memungkinkan zat-zat tertentu melewati membran. Protein-protein lainnya yang ada di membran plasma berfungsi sebagai tempat reseptor untuk berinteraksi dengan zat-zat perantara kimiawi khusus yang terdapat di lingkungan sel. Zat-zat perantara kimiawi ini yang mengontrol berbagai aktivitas sel yang penting untuk mempertahankan homeostasis.
Transpor molekul pada sel terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi cairan antara ruang di dalam sel (intrasel) dengan cairan ekstra sel. Inilah yang disebut dengan gradien konsentrasi. Prinsip-prinsip dasar transpor melalui membran adalah setiap molekul memiliki kecenderungan untuk menempati ruang secara merata. Molekul pada konsentrasi tinggi memiliki tekanan yang lebih besar dan setiap molekul mempunyai kecenderungan untuk selalu bergerak karena mengandung energi kinetik. Dengan demikian secara alami terdapat kecenderungan molekul pada konsentrasi tinggi bergerak ke konsentrasi rendah. Dalam hal ini membran sel memegang peranan yang sangat penting dalam proses keluar masuknya zat.

1.1 Komponen Membran Sel

Membran yang mengelilingi sel merupakan struktur yang luar biasa. Membran ini tidak saja memiliki sifat semipermeabel, yang memungkinkan lewatnya sejumlah bahan tertentu, tetapi tidak untuk bahan lain, tetapi permeabilitas itu juga dapat berubah-ubah. Secara umum, membran tersebut disebut sebagai membran plasma. Inti juga dikelilingi oleh suatu membran, dan organel-organel dikelilingi atau dibentuk oleh membran. Walaupun struktur kimia dan sifat-sifatnya sangat bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lain, namun membran memiliki gambaran umum tertentu. Ketebalan membran plasma adalah sekitar 7,5 nm (75 unit Angstrom). Membran tersebut terutama terdiri dari protein dan lemak. (Ganong, 1995)
http://dunia-mulyadi.blogspot.co.id/2015/12/materi-tentang-aktivitas-membran-sel.html
Gambar 1. Membran Sel

Lemak utama adalah fosfolipid, misalnya fosfatidilkolin dan fosfatidiletanolamin, selain itu juga ada sejumlah kecil kolesterol. Bentuk molekul fosfolipid kira-kira seperti jepitan baju (Gambar 1). Ujung bagian kepala molekul bermuatan listrik (polar) mengandung bagian fosfat bermuatan negatif dan relatif larut dalam air (hidrofilik). Sedangkan bagian ekornya mengandung asam lemak yang relatif tidak larut dalam air (nonpolar, hidrofobik). Pada membran, ujung hidrofilik molekul terpapar ke lingkungan cair yang membasahi eksterior sel dan sitoplasma; ujung-ujung hidrofobik bertemu di bagian dalam membran yang kurang mengandung air. Permukaan luar lapisan ini berhubungan dengan cairan ekstrasel (CES) sedangkan permukaan dalamnya berkontak dengan cairan intrasel (CIS). Pada prokariot (sel-sel misalnya bakteri; tidak terdapat inti), fosfolipid umumnya satu-satunya lemak membran, tetapi pada eukariot (sel yang mengandung inti), membran sel juga mengandung kolesterol (pada hewan) atau steroid lain (pada tumbuhan). (Ganong, 1995)

Lipid lapis-ganda (lipid bilayer) ini bukanlah suatu struktur yang kaku, tetapi bersifat seperti cairan, dengan konsistensi yang lebih mirip minyak goring cair daripada lemak padat. Fosfolipid, yang tidak disatukan oleh ikatan kimia, mampu berputar-putar dengan cepat serta berpindah-pindah di dalam separuh lapisan membran plasma. Yang juga berperan menimbulkan sifat cair serta stabilitas membran adalah kolesterol. Dengan berada di antara molekul-molekul fosfolipid, molekul kolesterol mencegah rantai-rantai asam lemak menyatu dan mengkristal, suatu proses yang akan secara drastic menurunkan tingkat kecairan (fluiditas) membran. Sifat cair tersebut memungkinkan membran fleksibel sehingga sel dapat mengubah bentuknya. Sebagai contoh, sel darah merah harus mengubah bentuknya hingga berbeda sekali, ketika terperas masuk satu persatu melintasi kapiler, pembuluh darah paling halus. Diperkirakan bahwa fungsi-fungsi membran yang penting lainnya, seperti proses transportasi, juga bergantung pada sifat cair lipid bilayer ini. (Sherwood, 1996)

Menurut Sherwood (1996), membran plasma terlalu tipis untuk dapat dilihat dengan mikroskop cahaya biasa, tetapi dengan bantuan mikroskop electron membran inti tampak sebagai struktur trilaminer (berlapis tiga) yang terdiri dari dua lapisan gelap yang dipisahkan oleh satu lapisan terang di tengahnya. Dua garis gelap yang tampak diyakini disebabkan oleh pewarnaan daerah-daerah polar hidrofilik molekul-molekul protein dan lipid, sedangkan ruang terang di antaranya sesuai dengan bagian hidrofobik yang dibentuk oleh bagian-bagian non-polar molekul-molekul tersebut.

Banyak terdapat protein yang melekat atau terselip dalam membran, di antara lipid bilayer. Protein-protein tersebut berada dalam unit-unit globular terpisah dan banyak yang menembus melintasi membran (protein integral), sedangkan yang lain (protein perifer) hanya menonjol di dalam atau di luar membran (Gambar 1). Jumlah protein bervariasi sesuai fungsi membran, tetapi rata-rata menyusun 50 % massa membran; terdapat sebuah molekul protein per 50 molekul fosfolipid yang ukurannya jauh lebih kecil. Bagian protein yang hidrofobik dan tidak bermuatan biasanya terletak di bagian dalam membran, sedangkan bagian protein yang hidrofilik dan bermuatan terletak di permukaan. Protein perifer melekat ke permukaan membran melalui berbagai cara, salah satu cara yang sering terjadi adalah pelekatan ke bentuk terglikosilasi fosfatidilinositol. Protein yang melekat melalui jangkar glikosil- fosfatidilinositol ini adalah enzim, misalnya fosfatase alkali, berbagai antigen, dan sejumlah molekul adhesi (perlekatan) sel. (Ganong, 1995)

Walaupun lapisan luar dan dalam memiliki gambaran yang sama apabila dilihat dengan mikroskop elektron, jelas dari deskripsi kita bahwa membran plasma sebenarnya asimetris, yaitu permukaan membran yang menghadap CES sangat berbeda dengan permukaan yang menghadap sitoplasma. Karbohidrat hanya terdapat di permukaan luar; permukaan luar dan dalam memiliki jenis dan jumlah protein yang berbeda; dan bahkan komposisi lemak separuh luar bilayer ini sedikit banyak berbeda dari separuh dalam. Perbedaan kedua sisi dari membran ini berkaitan dengan perbedaan fungsi yang dilakukan oleh permukaan luar dan dalam. (Sherwood, 1996)

1.2 Fungsi Membran Sel

Sherwood (1996) memberikan penjelasan tentang berbagai komponen membran plasma yang bertanggung jawab melakukan fungsi-fungsi yang berbeda, antara lain:
  1. Lipid bilayer, berfungsi untuk:
    1. Membentuk struktur dasar membran
    2. Bagian dalamnya yang hidrofobik berfungsi sebagai sawar untuk lewatnya zat-zat larut air antara CIS dan CES
    3. Menentukan sifat cair (fluiditas) membran
  2. Protein membran, berfungsi untuk:
    1. Sebagai protein yang terentang di dalam membran membentuk jalur atau saluran berisi air yang menembus lipid bilayer.
    2. Sebagai molekul pembawa (carrier molecule)  yang mengangkut zat-zat sesuai gradien elektrokimia dengan difusi fasilitasi yang tidak mampu menembus membran dengan sendirinya.
    3. Sebagai tempat reseptor (receptor site) yang “mengenali” dan berikatan dengan molekul-molekul spesifik di lingkungan sekitar sel; mengikat neurotransmitter dan hormon, mencetuskan perubahan-perubahan fisiologis di dalam sel.
    4. Sebagai enzim yang terikat ke membran yang mengontrol atau mengkatalisis reaksi-reaksi kimia tertentu di permukaan dalam atau luar sel.
    5. Berperan dalam mempertahankan bentuk sel serta mungkin ikut serta dalam perubahan-perubahan di permukaan yang terjadi saat sel bergerak.
    6. Sebagai molekul adhesi sel (cell adhesion molecule, CAM)
    7. Bersama karbohidrat (glikoprotein) berfungsi dalam pengolahan antibody, serta untuk mengenali atau membedakan “diri” (self, yaitu sel dari jenis yang sama) dari yang asing (nonself) dan dalam interaksi sel ke sel.
    8. Sebagai pompa yang secara aktif memindahkan ion-ion melintasi membran.
  3. Karbohidrat, berfungsi untuk:
    1. Menentukan orientasi dan menambatkan protein-protein membran.
    2. Berperan dalam pertumbuhan jaringan, yang biasanya ditahan sampai batas kepadatan sel tertentu.

1.3 Transfor Pasif

Prinsip-prinsip dasar transpor melalui membran adalah setiap molekul memiliki kecenderungan untuk menempati ruang secara merata. Molekul pada konsentrasi tinggi memiliki tekanan yang lebih besar dan setiap molekul mempunyai kecenderungan untuk selalu bergerak karena mengandung energi kinetik. Dengan demikian secara alami terdapat kecenderungan molekul pada konsentrasi tinggi bergerak ke konsentrasi rendah. Transpor pasif merupakan transpor ion, molekul, senyawa atau perpindahan zat dari luar atau dalam sel tanpa memerlukan energi. Perpindahan zat ini terjadi karena perbedaan konsentrasi antara zat atau larutan. Proses transpor pasif ini dapat terjadi secara difusi, osmosis, dan difusi terfasilitasi. (Diastuti, 2009; Rochmah, 2009)

1.3.1 Difusi

Diatas suhu nol mutlak semua molekul selalu bergerak secara acak akibat energi panas (termal). Gerakan ini paling jelas tampak pada cairan dan gas, dengan tiap-tiap molekul memiliki lebih banyak ruang untuk bergerak sebelum bertumbukan dengan molekul lain. Setiap molekul bergerak secara terpisah dan acak ke segala arah. Akibat gerakan yang kacau balau ini, molekul-molekul sering bertumbukan satu sama lain dalam berbagai arah seperti bola bilyard yang saling bertabrakan. Gerakan acak tersebut dikenal sebagai difusi. Difusi juga dapat diartikan sebagai perpindahan zat (padat, cair, dan gas) dari larutan konsentrasi tinggi (hipertonis) ke larutan dengan konsentrasi rendah (hipotonis). Dengan kata lain setiap zat akan berdifusi menuruni gradien konsentrasinya. Gradien konsentrasi (gradien kimia) adalah perbedaan konsentrasi antara dua daerah yang berdampingan. Hasil dari difusi adalah konsentrasi yang sama antara larutan tersebut dinamakan isotonis. (Sherwood, 1996)

Diastuti (2009) dalam bukunya menerangkan bahwa kecepatan zat berdifusi melalui membran sel tidak hanya tergantung pada gradien konsentrasi, tetapi juga pada besar, muatan, dan daya larut dalam lemak (lipid). Membran sel kurang permeabel terhadap ion-ion (Na+, Cl–, K+) dibandingkan dengan molekul kecil yang tidak bermuatan. Dalam keadaan yang sama molekul kecil lebih cepat berdifusi melalui membran sel daripada molekul besar. Molekul-molekul yang bersifat hidrofobik dapat bergerak dengan mudah melalui membran daripada molekul-molekul hidrofolik. Molekul-molekul yang besar dan ion dapat bergerak melalui membran.

Proses difusi sering terjadi pada tubuh kita. Tanpa kita sadari, tubuh kita selalu melakukan proses ini, yaitu pada saat kita menghirup udara. Ketika menghirup udara, di dalam tubuh akan terjadi pertukaran gas antarsel melalui proses difusi. Contoh lain proses difusi adalah saat kita membuat minuman sirup. Sirup yang kita larutkan dengan air akan bergerak dari larutan yang konsentrasinya tinggi ke larutan yang konsentrasinya rendah. Pada masing-masing zat, kecepatan difusi berbeda-beda. Untuk contoh kasus yang dijelaskan, yaitu antara sirup dan gas, maka kecepatan difusi sirup lebih besar pada gas. (Lestari, 2009)
Guyton (1987) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi suatu zat dari satu daerah ke daerah lainnya antara lain adalah sebagai berikut :
  1. Makin besar selisih konsentrasi, makin besar kecepatan difusi
  2. Makin kecil akar pangkat dua berat molekul, makin besar kecepatan difusi
  3. Makin pendek jaraknya, makin besar kecepatannya
  4. Makin besar potongan melintang ruangan tempat difusi berlangsung, makin besar kecepatan difusinya
  5. Makin tinggi suhu, makin besar pergerakan molekul dan juga makin besar kecepatan difusinya.

1.3.2 Osmosis

Air dapat menembus membran plasma dengan mudah. Gaya yang mendorong difusi air menembus membran sama seperti gaya untuk molekul lain, yaitu gradien konsentrasi. Biasanya istilah konsentrasi mengacu pada kepadatan zat terlarut (solute) dalam suatu volume air tertentu. Bagaimanapun juga, perlu diketahui bahwa penambahan zat terlarut ke dalam air murni pada dasarnya menurunkan konsentrasi air. Secara umum, satu molekul zat terlarut akan menggantikan satu molekul air. (Sherwood, 1996)

Apabila larutan-larutan dengan konsentrasi zat terlarut yang berbeda (dan dengan demikian konsentrasi air juga berbeda) dipisahkan oleh sebuah membran yang memungkinkan lewatnya air, seperti membran plasma, air akan berdifusi menuruni gradien konsentrasinya dari daerah dengan konsentrasi air tinggi (konsentrasi zat terlarut rendah) ke daerah dengan konsentrasi air rendah (konsentrasi zat terlarut tinggi). Difusi netto air ini dikenal sebagai osmosis. Karena larutan hampir selalu dinyatakan dalam konsentrasi zat terlarut, maka air bergerak melalui osmosis ke daerah dengan konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi melaui membran semipermeabel. Secara mudah dapat dikatakan bahwa zat terlarut “menarik” air, tetapi pada kenyataannya, osmosis adalah tidak lebih dari difusi air sesuai penurunan gradien konsentrasinya. (Sherwood, 1996)

Tekanan osmosis dapat diukur dengan suatu alat yang disebut osmometer. Air akan bergerak dari daerah dengan tekanan osmosis rendah ke daerah dengan tekanan osmosis tinggi. Sel akan mengerut (krenasi) jika berada pada lingkungan yang mempunyai konsentrasi larutan lebih tinggi. Hal ini terjadi karena air akan keluar meninggalkan sel secara osmosis. Sebaliknya jika sel berada pada lingkungan yang hipotonis (konsentrasi rendah) sel akan banyak menyerap air, karena air berosmosis dari lingkungan ke dalam sel dan akan menyebabkan hemolisis (pecah). Jika sel-sel tersebut adalah sel tumbuhan, maka akan terjadi tekanan turgor apabila dalam lingkungan hipotonis. Sebaliknya jika sel tumbuhan berada pada lingkungan hipertonis, dapat mengalami plasmolisis yaitu terlepasnya sel dari dinding sel.

  
Gambar 2. Keseimbangan Air dalam Sel Hidup

Beberapa organisme yang hidup di laut, seperti porifera, ubur-ubur, dan protozoa serta ikan laut, juga melakukan proses osmosis. Proses ini akan dilakukan apabila selnya mengalami kondisi isotonis. Jumlah garam dalam sel akan diseimbangkan dengan air laut di sekeliling organisme tersebut. Contoh model terjadinya proses osmosis dapat dilihat pada Gambar 3. (Rochmah, 2009)
  
Gambar 3. Model Terjadinya Proses Osmosis


1.3.3 Difusi Terfasilitasi
Sherwood (1996) menyatakan bahwa transportasi dengan perantara pembawa ada dua macam, bergantung pada apakah diperlukan energi untuk menyelesaikan proses tersebut atau tidak; difusi terfasilitasi (tidak memerlukan energi) dan transportasi aktif (memerlukan energi). Difusi terfasilitasi menggunakan pembawa (carrier) untuk mempermudah / membantu pemindahan suatu zat tertentu melintasi membran dari konsentrasi tinggi menuju ke konsentrasi rendah. Proses ini bersifat pasif dan tidak memerlukan energi karena pergerakan terjadi secara alamiah menuruni gradien konsentrasi.

Contoh paling jelas untuk difusi terfasilitasi (facilitated diffusion) adalah transportasi glukosa ke dalam sel. Konsentrasi glukosa di dalam darah lebih tinggi daripada konsentrasinya di dalam jaringan. Pasokan gula segar secara terus menerus masuk ke dalam darah dari makanan dan simpanan energi cadangan.  Secara bersamaan, sel-sel me-metabolis glukosa hampir secepat pemasukannya ke dalam sel dari darah. Akibatnya, terus terdapat gradien konsentrasi yang menyebabkan difusi netto glukosa ke dalam sel. Walaupun demikian, karena glukosa adalah molekul polar, ia tidak dapat menembus membran sel dengan kemampuan sendiri. Tanpa molekul pembawa glukosa yang memudahkan transportasi glukosa menembus membran, sel akan kekurangan sumber bahan bakar yang berharga tersebut. (Sherwood, 1996)

Tempat pengikatan pembawa yang terlibat dalam difusi terfasilitasi dapat mengikat molekul penumpangnya apabila terpajan ke kedua sisi membran. Ibaratnya, karena lebih banyak penumpang yang menunggu untuk naik di sisi dengan konsentrasi tinggi dibandingkan di sisi dengan konsentrasi rendah, perpindahan netto selalu berlangsung menurun searah dengan penurunan gradien konsentrasi dari konsentrasi tinggi ke rendah. Sesuai ciri transportasi dengan perantara, kecepatan difusi terfasilitasi dibatasi oleh saturasi tempat pengikatan dan mendekati maksimum, disebut Vmax, tidak seperti kecepatan difusi sederhana, yang selalu berbanding lurus dengan gradien konsentrasi. (Sherwood, 1996)

Zat-zat paling penting yang melintasi membran sel melalui proses difusi terfasilitasi ialah glukosa dan sebagian besar  asam amino. Dalam hal glukosa, molekul pembawa diketahui mempunyai berat molekul sebesar 45000; molekul ini juga dapat mentranspor beberapa monosakarida lain yang mempunyai struktur mirip dengan glukosa, termasuk khususnya galaktosa. Insulin juga dapat meningkatkan kecepatan proses difusi terfasilitasi untuk glukosa sebesar 10 sampai 20 kali lipat. Ini adalah mekanisme dasar yang digunakan insulin untuk mengatur pemakaian glukosa dalam tubuh. (Guyton & Hall, 1996)
Lestari (2009) dalam bukunya menyebutkan bahwa difusi terbantu dapat ditemui pada kehidupan sehari-hari, misalnya pada bakteri Escherichia coli yang diletakkan pada media laktosa. Membran sel bakteri tersebut bersifat impermeabel sehingga tidak dapat dilalui oleh laktosa. Setelah beberapa menit kemudian bakteri akan membentuk enzim dari dalam sel yang disebut permease, yang merupakan suatu protein sel. Enzim permease inilah yang akan membuatkan jalan bagi laktosa sehingga laktosa ini dapat masuk melalui membran sel.

2.4. Transpor Aktif

Dari hasil pembicaraan selama ini, didapati bahwa tidak ada sejumlah zat yang dapat berdifusi melawan gradien konsentrasi. Dengan demikian, sering dikatakan bahwa zat tidak dapat berdifusi secara “mendaki”. Oleh karena itu, untuk dapat menyebabkan pergerakan zat melawan gradien konsentrasi (menuju konsentrasi yang lebih tinggi), harus diberikan energi pada zat tersebut. Waktu molekul ditranspor melalui membran sel dari larutan yang encer ke larutan yang pekat, energi harus diberikan pada molekul-molekul. Proses pergerakan molekul oleh membran sel melawan gradien konsentrasi inilah yang dinamakan proses transpor aktif. (Guyton, 1996)

Mekanisme transpor aktif diduga sama bagi semua zat dan tergantung pada transpor oleh pembawa (carrier). Beda antara transpor aktif dan difusi terfasilitasi terletak pada energi yang diberikan pada system untuk transpor aktif, sehingga transpor dapat terjadi melawan gradien konsentrasi (atau melawan gradien listrik atau tekanan). (Guyton, 1987)
Guyton (1987) menyatakan bahwa walaupun mekanisme yang digunakan oleh energi untuk menyebabkan transpor aktif tidak diketahui seluruhnya, ada beberapa gambaran dalam proses ini, antara lain:
  1. Energi dipindahkan ke dalam permukaan dalam membran dari zat berenergi tinggi, terutama ATP, ke dalam sitoplasma sel.
  2. Molekul (gabungan molekul) pembawa khusus diperlukan untuk transpor setiap jenis zat atau setiap kelas zat yang sama.
  3. Diperlukan enzim-enzim khusus untuk meningkatkan reaksi kimia antara pembawa dan setiap zat yang ditranspor.
Seperti pada difusi terfasilitasi, sifat khusus transpor aktif adalah mekanisme saturasi bila konsentrasi zat yang ditranspor sangat tinggi. Saturasi ini akibat terbatasnya jumlah pembawa yang tersedia untuk transpor zat atau enzim-enzim yang meningkatkan reaksi-reaksi kimia. Beberapa macam zat yang ditranspor secara aktif melalui membran sel adalah ion natrium, ion kalium, ion kalsium, ion besi, ion hydrogen, ion klorida, ion iodida, ion urat, beberapa jenis gula, dan sebagian besar asam amino. (Guyton, 1996)

2.4.1. Transpor Aktif Primer & Sekunder 

Guyton (1996) membagi transpor aktif menjadi dua tipe sesuai dengan sumber energi yang digunakan untuk menimbulkan transpor. Kedua jenis transpor ini disebut transpor aktif primer dan transpor aktif sekunder. Pada transpor atif primer, energi secara langsung berasal dari pemecahan adenosine trifosfat (ATP) atau beberapa senyawa fosfat berenergi tinggi lainnya untuk memindahkan suatu zat melawan gradien konsentrasinya. Sedangkan pada transpor aktif sekunder, energi diperlukan dalam keseluruhan proses, tetapi tidak secara langsung dibutuhkan untuk menjalankan pompa. Energi secara sekunder berasal dari energi yang disimpan dalam bentuk perbedaan konsentrasi ionic (gradien konsentrasi ion) antara kedua sisi membran, yang pada salah satu sisi dibentuk oleh transpor aktif primer untuk memindahkan molekul kotransportasi melawan gradien konsentrasi. Contoh transpor aktif primer antara lain adalah Pompa Natrium-Kalium, Transpor Aktif Primer Kalsium, dan Transpor Aktif Primer untuk Ion Hidrogen.

Contoh transpor aktif sekunder adalah Ko-Transpor dan Transpor Imbangan. Bila ion natrium ditranspor keluar dari sel melalui transpor aktif primer, biasanya timbul gradien konsentrasi yang besar dari natrium – konsentrasi yang sangat tinggi di luar sel dan konsentrasi yang snagat rendah di dalam sel. Gradien ini menyatakan adanya penyimpanan energi, karena kelebihan natrium di luar membran sel selalu berusaha untuk berdifusi ke dalam. Pada kondisi yang sesuai, energi difusi dari natrium ini dapat menarik zat lain untuk bersama dengannya melalui membran sel. Fenomena ini disebut ko-transpor, ini adalah satu bentuk transpor aktif sekunder. Contoh peristiwa ko-transpor adalah pada ko-transpor natrium pada glukosa dan asam amino. (Guyton, 1996)

2.4.2 Endositosis

Diastuti (2009) bahwa endositosis merupakan proses pemasukan zat dari luar sel ke dalam sel. Mula-mula partikel-partikel dari luar sel menempel pada membran kemudian mendesak membran sehingga terjadilah lekukan yang semakin lama semakin dalam bentuknya seperti kantung dan akhirnya menjadi bulat lalu terlepas dari membran. Bulatan tersebut berisi partikel, lalu akan dicerna oleh lisosom/enzim pencerna yang lain. Endositosis memiliki dua macam bentuk yaitu pinositosis dan fagositosis. Pinositosis merupakan proses pemasukan zat ke dalam sel yang berupa cairan. Hal ini sesuai dengan arti pino sendiri yaitu minum. Sedangkan fagositosis (fago = makan) merupakan pemasukan zat padat atau sel lainnya ke dalam tubuh sel. Sesuai dengan artinya, peristiwa ini seperti sel memakan zat lain, contohnya adalah proses dimana bakteri, jaringan mati, atau bahan lain yang tampak di bawah mikroskop dimakan oleh sel misalnya leukosit polimorfonukleus dalam darah (Gambar 4).
Gambar 2. Keseimbangan Air dalam Sel Hidup
Gambar 4. Endositosis: (a) Pinositosis dan (b) Fagositosis

Terdapat dua jenis endositosis: endositosis konstitutif, suatu proses berkelanjutan yang tidak memerlukan induksi; dan endositosis yang diperantarai oleh reseptor, yang sebagian besar dihasilkan melalui lubang-lubang terbungkus klatrin (clathrin-coated pits) khusus di membran sel. Endositosis yang diperantarai oleh reseptor dapat berlangsung lebih cepat daripada endositosis konstitutif, dan yang pertama bersifat lebih spesifik, yaitu bahwa molekul tertentu yang mencetuskannya terkonsentrasi di reseptor pada lubang terbungkus (yang kemudian menjadi vesikel terbungkus). (Ganong, 1995)

2.4.3 Eksositosis

Eksositosis terjadi apabila terdapat molekul-molekul berukuran besar yang tidak dapat ditransportasikan melalui mekanisme transpor aktif. Eksositosis (ex = keluar dari, cytos = sel) merupakan mekanisme transpor molekul keluar dari dalam sel atau organel sel dengan cara membentuk vesikula. Protein-protein yang akan disekresikan oleh sel bergerak dari reticulum endoplasma ke apparatus Golgi, dan dari Golgi trans, mereka dikeluarkan ke dalam granula atau vesikel sekretorik. Suatu sel akan membentuk vesikula apabila akan mengeluarkan suatu molekul. Vesikula yang terbentuk akan melingkupi molekul yang akan dikeluarkan. Vesikula bersama molekul yang dilingkupinya tersebut akan bergerak menuju membran sel. Setelah melekat dengan membran sel, molekul yang dibawa vesikula akan berdifusi dan dikeluarkan dari dalam sel. Misalnya saja, pengeluaran zat saat pembentukan dinding sel, sekresi hormon pada sel hewan, dan penge luaran sisa-sisa pencernaan makanan. 

Gambar 5. Eksositosis


Ganong (1995) menyatakan bahwa proses ini memerlukan Ca2+ dan energi, tetapi rincian mekanisme yang berperan menguraikan membran belum diketahui. Eksositosis juga memiliki dua tujuan yang berbeda:
  1. Mengadakan mekanisme untuk mengeluarkan molekul polar besar, misalnya hormon-hormon berprotein dan enzim-enzim, yang tidak mampu melintasi membran plasma. Dalam hal ini, isi vesikel sangat spesifik dan hanya dilepaskan setelah menerima sinyal yang sesuai.
  2. Memungkinkan sel menambahkan komponen khusus pada membran, misalnya pembawa (carrier), saluran, atau reseptor terseleksi, bergantung pada kebutuhan sel. Dalam hal ini, komposisi membran yang mengelilingi vesikel penting, dan isi vesikel mungkin hanya sampel CIS.




Demikianlah Artikel Materi Tentang Aktivitas Membran Sel

Sekian artikel Materi Tentang Aktivitas Membran Sel kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Materi Tentang Aktivitas Membran Sel dengan alamat link https://www.dunia-mulyadi.com/2015/12/materi-tentang-aktivitas-membran-sel.html

0 Response to "Materi Tentang Aktivitas Membran Sel "

Post a Comment

Terimakasih atas Kunjungannya serta Komentarnya.....Jangan Lupa Like and Sharenya Thanks......