Struktur dan Fungsi Sel Pada Sistem Reproduksi

Sistem Reproduksi Wanita

A1. Anatomi Organ Reproduksi Wanita
Peran wanita dalam reproduksi lebih rumit bila dibandingkan dengan pria. Fungsi utama sistem reproduksi pada wanita adalah (1) pembentukan ovum (oogenesis); (2)menerima sperma; (3) transportasi sperma dan ovum ke tempat penyatuan (fertilisasi/pembuahan, atau konsepsi); (4) pemeliharaan janin yang sedang berkembang sampai janin tersebut dapat bertahan hidup di dunia luar (gestasi atau kehamilan), termasuk pembentukan plasenta; (5) melahirkan bayi (partus); dan (6) memberi makan pada bayi yang baru dilahirkan dengan menghasilkan susu.
Ovarium memiliki ukuran panjang 3 – 5 cm, lebar 2 – 3 cm, dan tebal 1 cm, berbentuk seperti kacang kenari. Oviductus (Tubae uterinae atau Tuba Fallopi), yang menjemput ovum pada ovulasi dan berfungsi sebagai tempat pembuahan, memiliki ukuran panjang 10 cm dan diameter 0,7 cm, organ ini terbagi menjadi Infundibulum tubae uterinae yang menyerupai corong dengan struktur yang menyerupai jari-jari yang disebut Fimbriae tubae uterinae yang berfungsi menangkap oosit yang akan di ovulasi; Ampula tubae uterinae; dan Istmus tubae uterinae yaitu bagian tersempit dan berhubungan langsung dengan Uterus. Uterus memiliki rongga dan berdinding tebal, yang terutama berperan dalam mempertahankan janin selama perkembangannya dan mengeluarkannya pada akhir masa kehamilan, berbentuk seperti buah pir terbalik dan dalam kehamilan tidak hamil memiliki panjang 7 cm, lebar 5 cm, dan diameter 2,3 cm, bagian terbawah UterusCerviks, menonjol ke dalam vagina dan memiliki sebuah lubang, Canalis cervicalis. Sperma didepositkan di vagina oleh penis selama hubungan kelamin. Canalis cervicalis berfungsi sebagai jalur untuk sperma melintasi uterus  ke tempat pembuahan di Tuba fallopi, dan sewaktu mengalami dilatasi saat prose persalinan. Vagina yaitu organ kopulasi wanita memiliki panjang 8 – 10 cm.
Muara vagina terletak di regio perineum antara muara urethrae di bagian anterior dan anus di bagian posterior. Lubang ini ditutup secara parsial oleh himen, yang secara fisik dapat robek karena berbagai cara, termasuk hubungan kelamin yang pertama. Muara vagina dan urethra dikelilingi di sebelah lateral oleh dua pasang lipatan kulit, Labia minora dan Labia majoraClitoris, sebuah struktur erotik kecil dan terdiri dari jaringan yang identik glans penis.
 Organ Reproduksi wanita
 Gambar 1: Organ Reproduksi wanita
A2. Fisiologi Organ Reproduksi Wanita
Berbeda dengan sel sperma yang diproduksi seumur hidup oleh pria, sel telur pada wanita terbatas jumlahnya. Jumlah sel telur wanita, pada usia tujuh tahun adalah sekitar 300.000. Akan tetapi, jumlah tersebut berkurang seiring waktu. Selama masa reproduksi, sel telur yang akan dilepaskan hanya sekitar 400–500 buah sel telur (Starr and Taggart, 1995: 780). Sel t elur tersebut diovulasikan setiap bulan mulai dari masa aktif reproduksi saat menstruasi kali pertama. Jadi, kurang lebih wanita akan mengalami masa subur dalam waktu 33 hingga 41 tahun atau dalam rentang usia 12 hingga 45–63 tahun.
 Oogenesis
Gambar 2 : Oogenesis
Oosit primer telah dibentuk pada saat organogenesis bayi di dalam rahim dan telah mencapai tahap profase I. Setelah oosit terbentuk, oosit mengalami  masa penantian (arestasi) hingga akhirnya wanita tersebut mulai memasuki masa subur yang ditandai dengan menstruasi. Kemudian, oosit melanjutkan pembelahan meiosisnya menjadi dua buah oosit sekunder. Salah satu dari oosit tersebut, akan mengalami degenerasi sehingga hanya ada satu oosit yang akan berkembang. Oosit degeneratif ( badan polar) hasil meiosis I tidak akan ikut dalam meiosis II. Oosit sekunder, lalu akan mengalami pembelahan

meiosis kedua menghasilkan satu buah oosit fungsional. Oosit fungsional tersebut kemudian yang akan diovulasikan setiap bulan (dalam periode lebih

kurang 28 hari) selama masa subur wanita.

B.  Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Pria
B1. Anatomi Organ Reproduksi Pria
Sistem reproduksi pria terdiri dari testis, epididimis, ductus deferen, ductus ejaculatorius, urethrae, danpenis. Fungsi reproduksi penting pada pria adalah (1) pembentukan sperma (spermatogenesis) yaitu proses perkembangan spermatogonia menjadi spermatozoa yang berlangsung sekitar 64 hari, dan (2) penyaluran sperma pada wanita. Organ penghasil sperma, testis adalah organ lunak berbentuk oval dengan panjang 4 – 5 cm dan berdiameter 2,5 cm. Epididimis adalah tuba terlilit yang panjangnya mencapai 20 kaki (4 – 6 meter) yang terletak di sepanjang sisi posterior testis. Ductus deferen adalah kelanjutan epididimis, yang masing-masing meninggalkan skrotum, menanjak menuju dinding abdominal kanal inguinal, lalu mengalir di posterocaudal Vesica urinaria untuk bergabung denganductus ejaculatorius. Ductus ejaculatorius pada kedua sisi terbentuk dari pertemuan pembesaran (ampula) di bagian ujung Ductus deferen dan ductus Vesicula seminalisUrethrae merentang dari Vesica urinaria hingga pangkal penis dan terdiri dari tiga bagian, yaitu Urethrae pars prostaticaUrethrae pars membranacea, dan Urethrae pars spongiosa. Organ yang terakhir adalah penis, penis terdiri dari 3 bagian, pangkal penis, Corpus penis, dan Glans penis.
Sistem reproduksi pria dirancang untuk menyalurkan sperma ke saluran reproduksi wanita dalam suatu vehikulum cair, yaitu semen, yang kondusif untuk viabilitas sperma. Kelenjar seks tambahan yang utama, yang sekresinya membentuk sebagian besar semen, adalah Vesicula seminalis yang berfungsi untuk memberi nutrisi dan melindungi sperma, Glandula prostatica yang mengeluarkan cairan basa menyerupai susu yang menetralisir keasaman vagina selama senggama dan meningkatkan motilitas sperma yang akan optimum pada pH 6,0 – 6,5, serta sepasang Glandula bulbourethralis yang mensekresi cairan basa yang mengandung mukus ke dalam urethra penis untuk melumasi dan melindungi semen.
Mekanisme Ereksi
Penis sebagian besar terdiri dari jaringan erektil yang terdiri dari dua buah corpus cavernosum, dan satu buah corpus spongiosum. Apabila terjadi stimulasi seksual, arteriol-arteriol yang sebelumnya kontriksi secara refleks akan berdilatasi dan jaringan erektil akan terisi oleh darah, sehingga penis melebar, memanjang, dan mengeras.
Organ reproduksi dalam pria terdiri atas testis, saluran pengeluaran dan kelenjar asesoris.
a. Testis
Testis adalah kelenjar kelamin jantan pada hewan dan manusia. Testis berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis dibungkus oleh skrotum, kantong kulit di bawah perut. Pada manusia, testis terletak di luar tubuh, dihubungkan dengan tubulus spermatikus dan terletak di dalam skrotum. Ini sesuai dengan fakta bahwa proses spermatogenesis pada mamalia akan lebih efisien dengan suhu lebih rendah dari suhu tubuh (< 37°C).
Pada tubulus spermatikus terdapat otot kremaster yang apabila berkontraksi akan mengangkat testis mendekat ke tubuh. Bila suhu testis akan diturunkan, otot kremaster akan berelaksasi dan testis akan menjauhi tubuh. Fenomena ini dikenal dengan refleks kremaster.
Selama masa pubertas, testis berkembang untuk memulai spermatogenesis. Ukuran testis bergantung pada produksi sperma (banyaknya spermatogenesis), cairan intersisial, dan produksi cairan dari sel Sertoli.
Pada umumnya, kedua testis tidak sama besar. Dapat saja salah satu terletak lebih rendah dari yang lainnya. Hal ini diakibatkan perbedaan struktur anatomis pembuluh darah pada testis kiri dan kanan.
Testis berperan pada sistem reproduksi dan sistem endokrin. Fungsi testis:
– memproduksi sperma (spermatozoa)
– memproduksi hormon seks pria seperti testosteron.
Kerja testis di bawah pengawasan hormon gonadotropik dari kelenjar pituitari bagian anterior:
– luteinizing hormone (LH)
– Follicle Stimulating Hormone (FSH)
Testis dibungkus oleh lapisan fibrosa yang disebut tunika albuginea. Di dalam testis terdapat banyak saluran yang disebut tubulus seminiferus. Tubulus ini dipenuhi oleh lapisan sel sperma yang sudah atau tengah berkembang.
Spermatozoa (sel benih yang sudah siap untuk diejakulasikan), akan bergerak dari tubulus menuju rete testis, duktus efferen, dan epididimis. Bila mendapat rangsangan seksual, spermatozoa dan cairannya (semua disebut air mani) akan dikeluarkan ke luar tubuh melalui vas deferen dan akhirnya, penis. Di antara tubulus seminiferus terdapat sel khusus yang disebut sel intersisial Leydig. Sel Leydig memproduksi hormon testosteron. Pengangkatan testis disebut orchidektomi atau kastrasi.
b. Saluran reproduksi
Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi dan uretra.
  • Epididimis (tempat pematangan sperma)
Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar dari testis. Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri. Epididimis berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens
  • Vas deferens (saluran sperma dari testis ke kantong sperma)
Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran lurus yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis. Vas deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat jalannya sperma dari epididimis menuju kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis).
  • Saluran ejakulasi
Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung semen dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke dalam uretra
  • Uretra
Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis. Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih.
c. Kelenjar kelamin
Kumpulan kelenjar aksesoris terdiri dari vesikula seminalis, prostate, dan kelenjar bulbouretralis. Sebelum ejakulasi, kelenjar tersebut mensekresikan mucus bening yang menetralkan setiap urine asam yang masih tersisa dalam uretra.
Sel-sel sperma dapat bergerak dan mungkin aktif mengadakan metabolisme setelah mengadakan kontak dengan plasma semen. Plasma semen mempunyai dua fungsi utama yaitu: berfungsi sebagai media pelarut dan sebagai pengaktif bagi sperma yang mula-mula tidak dapat bergerak serta melengkapi sel-sel dengan substrat yang kaya akan elektrolit (natrium dan kalium klorida), nitrogen, asam sitrat, fruktosa, asam askorbat, inositol, fosfatase sera ergonin, dan sedikit vitamin-vitamin serta enzim-enzim. Kelenjar aksesoris terdiri dari:
  • Vesikula seminalis (tempat penampungan sperma)
Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan kelenjar berlekuk-lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding vesikula seminalis menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.
Vesikula seminalis menyumbangkan sekitar 60 % total volume semen. Cairan tersebut mengandung mukus, gula fruktosa (yang menyediakan sebagian besar energi yang digunakan oleh sperma), enzim pengkoagulasi, asam askorbat, dan prostaglandin.

Vesikula seminalis

 Gambar 3. Vesikula seminalis
  • Kelenjar prostat (penghasil cairan basa untuk melindungi sperma)
Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian bawah kantung kemih. Kelenjar prostat adalah kelenjar pensekresi terbesar. Cairan prostat bersifat encer dan seperti susu, mengandung enzim antikoagulan, sitrat (nutrient bagi sperma), sedikit asam, kolesterol, garam dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma.

Kelenjar prostat dan Anatomi Organ Reproduksi Pria

Gambar 4. Kelenjar prostat dan Anatomi Organ Reproduksi Pria
  • Kelenjar bulbouretra / cowper (penghasil lendir untuk melumasi saluran sperma)
Kelenjar bulbouretralis adalah sepasang kelenjar kecil yang terletak disepanjang uretra, dibawah prostat. Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).

Kelenjar  bulbouretra

Gambar 5. Kelenjar  bulbouretra
Alat kelamin luar
  • Penis
Penis (dari bahasa Latin yang artinya “ekor”, akar katanya sama dengan phallus, yang berarti sama) adalah alat kelamin jantan. Penis merupakan organ eksternal, karena berada di luar ruang tubuh. Pada manusia, penis terdiri atas tiga bangunan silinder berisi jaringan spons. Dua rongga yang terletak di bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga lagi berada di bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum yang membungkus uretra. Ujung penis disebut denganglan penis. Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil yang rongga-rongganya banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa. Bila ada suatu rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga penis menjadi tegang dan mengembang (ereksi).
Fungsi penis secara biologi adalah sebagai alat pembuangan sisa metabolisme berwujud cairan (urinasi) dan sebagai alat bantu reproduksi. Penis sejati dimiliki oleh mamalia. Reptilia tidak memiliki penis sejati karena hanya berupa tonjolan kecil serta tidak tampak dari luar, sehingga disebut sebagaihemipenis (setengah penis).

Struktur penis

Gambar 6. Struktur penis
  • Skrotum
Skrotum adalah kantung (terdiri dari kulit dan otot) yang membungkus testis atau buah zakar. Skrotum terletak di antara penis dan anus serta di depan perineum. Pada wanita, bagian ini serupa dengan labia mayora. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos). Otot dartosberfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster. Pada skrotum manusia dan beberapa mamalia bisa terdapat rambut pubis. Rambut pubis mulai tumbuh sejak masa pubertas.
Fungsi utama skrotum adalah untuk memberikan kepada testis suatu lingkungan yang memiliki suhu 1-8oC lebih dingin dibandingkan temperature rongga tubuh. Fungsi ini dapat terlaksana disebabkan adanya pengaturan oleh sistem otot rangkap yang menarik testis mendekati dinding tubuh untuk memanasi testis atau membiarkan testis menjauhi dinding tubuh agar lebih dingin. Pada manusia, suhu testis sekitar 34°C. Pengaturan suhu dilakukan dengan mengeratkan atau melonggarkan skrotum, sehingga testis dapat bergerak mendekat atau menjauhi tubuh. Testis akan diangkat mendekati tubuh pada suhu dingin dan bergerak menjauh pada suhu panas.
B2. Fisiologi Organ Reproduksi Pria
Spermatogenesis merupakan proses pembentukan dan pematangan spermatozoa (sel benih pria). Proses ini berlangsung dalam testis (buah zakar) dan lamanya sekitar 72 hari. Proses spermatogenesis sangat bergantung pada mekanisme hormonal tubuh. Spermatozoa ( sperma) yang normal memiliki kepala dan ekor, di mana kepala mengandung materi genetik DNA, dan ekor yang merupakan alat pergerakan sperma. Sperma yang matang memiliki kepala dengan bentuk lonjong dan datar serta memiliki ekor bergelombang yang berguna mendorong sperma memasuki air mani. Kepala sperma mengandung inti yang memiliki kromosom dan juga memiliki struktur yang disebut akrosom. Akrosom mampu menembus lapisan jelly yang mengelilingi telur dan membuahinya bila perlu. Sperma diproduksi oleh organ yang bernama testis dalam kantung zakar. Hal ini menyebabkan testis terasa lebih dingin dibandingkan anggota tubuh lainnya. Pembentukan sperma berjalan lambat pada suhu normal, tapi terus-menerus terjadi pada suhu yang lebih rendah dalam kantung zakar. Pada tubulus seminiferus testis terdapat sel-sel induk spermatozoa Atau spermatogonium. Selain itu juga terdapat sel Sertoli yang berfungsi memberi makan spermatozoa juga sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus. Sel Leydig berfungsi menghasilkan testosteron.
Proses spermatogenesis
Spermatogonium berkembang menjadi sel spermatosit primer. Sel spermatosit primer bermiosis menghasilkan spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder membelah lagi menghasilkan spermatid. Spermatid berdeferensiasi menjadi spermatozoa masak. Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP (Androgen Binding Protein) testosteron tidak diperlukan lagi, sel Sertoli akan menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hipofisis agar menghentikan sekresi FSH dan LH. Kemudian spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar Cowper. Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air mani. Pada waktu ejakulasi, seorang
laki-laki dapat mengeluarkan 300 – 400 juta sel spermatozoa. Pada laki-laki spermatogenesis terjadi seumur hidup dan pelepasan spermatozoa dapat terjadi setiap saat.

Anatomi Sperma

Gambar 7: Anatomi Sperma
 
Gambar 8: Spermatogenesis
  C.       Fertilisasi, Kehamilan, dan Melahirkan
Pada setiap siklus menstruasi normal, satu telur (ovum) dilepaskan dari salah satu ovarium, sekitar 14 hari sebelum periode menstruasi berikutnya. Pelepasan telur ini disebut ovulasi. Sel telur yang telah dilepaskan oleh ovum  akan menuju ke tuba. Pada ovulasi, lendir di leher rahim menjadi lebih cair dan lebih elastis, yang memungkinkan sperma masuk rahim dengan cepat. Dalam waktu 5 menit, sperma bisa bergerak dari vagina, melalui leher rahim ke dalam rahim, dan sampai ke tuba fallopi uantuk melakukan fertilisasi. Sel-sel yang melapisi tuba falopi memfasilitasi fertilisasi. Untuk membuahi sebuah ovum, sebuah sperma mula-mula harus melewati korona radiata dan zona pelusida yang mengelilingi ovum tersebut. Setelah terjadi fertilisasi atau pembuahan oleh sperma terjadi maka sel yang dihasilkan adalah zigot. Kemudian terjadi pembelahan pada zigot sehingga menghasilkan morula. Morula kemudian menuju ke uterus dan hidup dari sekresi endometrium dan terus membelah diri. Selama enam sampai tujuh hari setelah ovulasi, endometrium secara simultan dipersiapkan untuk implantasi di bawah pengaruh progesteron fase luteal. Selama waktu ini, uterus berada dalam fase sekretorik atau progestasional, mengumpulkan penyimpanan glikogen dan mengandung banyak pembuluh darah. Dalam keadaan normal pada saat endometrium siap diimplantasikan, morula kemudian berdiferensiasi menjadi blastokista yang mampu melakukan implantasi. Blastokista adalah satu lapis sel-sel berbentuk bola (sferis) yang mengelilingi suatu rongga berisi cairan dengan massa padat sel-sel (inner cell mass) yang akan menjadi janin itu sendiri. Dinding blastokista merupakan salah satu sel tebal, kecuali di suatu bagian, di mana ia adalah tiga sampai empat sel tebal. Sel-sel bagian dalam di daerah menebal berkembang menjadi embrio, dan sel-sel luar ke dalam dinding rahim berkembang menjadi plasenta. Bagian blastokista sisanya tidak akan menyatu dengan janin tetapi berfungsi sebagai penunjang selama kehidupan intrauterus. Lapisan tipis paling luar, yaitu trofoblas, bertanggungjawab menyelesaikan implantasi. Rongga cairan yang disebut blastokel akan menjadi kantung amnion yang mengelilingi dan menjadi bantalan bagi janin selama kehamilan.
Ketika blastokista siap melaksanakan implantasi, permukaanya menjadi lengket. Blastokista melekat ke lapisan dalam uterus. Implantasi dimulai ketika sel-sel trofoblastik mengeluarkan enzim-enzim proteolitik sewaktu bersentuhan dengan endometrium. Enzim-enzim ini mencerna jalan diantara sel-sel endometrium, sehingga sel-sel trofoblas yang berbentuk jari-jari dapat menembus ke dalam endometrium tempat implantasi dilakukan. Invasi trofoblas pada endometrium menyebabkan sel-sel endometrium mengeluarkan prostaglandin yang bekerja secara lokal untuk meningkatkan vaskularisasi sehingga menyebabkan edema dan meningkatkan simpanan zat gizi. Jaringan endometrium yang mengalami perubahan tersebut disebut desidua. Pada jaringan desidua yang superkaya inilah blastokista tertanam.
Lapisan trofoblas terus mencerna sel-sel desidua disekitarnya dan menyediakan energi sampai plasenta terbentuk. Simpanan glikogen dalam endometrium hanya mampu memberi makan pada minggu-minggu pertama. Untuk mempertahankan hidup di uterus, terbentuklah plasenta, suatu organ khusus untuk pertukaran antara darah ibu dan janin. Plasenta berasal dari jaringan trofoblastik dan desidua.
Lapisan desidua yang meliputi hasil konsepsi ke arah kavum uteri disebut desidua kapsularis; yang terletak antara hasil konsepsi dan dinding uterus disebut desidua basalis; pada tempat itulah plasenta akan dibentuk. Saat ini lapisan trofoblastik sudah mencapai ketebalan dua lapisan yang disebut korion. Karena uterus mengeluarkan enzim dan meluas, korion membentuk suatu jaringan rongga-rongga yang meluas di dalam desidua. Dinding kapiler desidua mengalami erosi akibat ekspansi korion sehingga rongga berisi darah ibu. Terbentuk tonjolan-tonjolan mirip jari dari jaringan korion yang meluas ke dalam genangan darah ibu. Janin segera mengirimkan kapiler ke tonjolan-tonjolan korion untuk membentuk vilus plasenta. Sebagian vilus meluas secara sempurna menembus ruang-ruang berisi darah untuk menambatkan plasenta bagian janin ke jaringan endometrium, tetapi sebagian besar hanya menonjol ke dalam genangan darah ibu. Setiap vilus plasenta mengandung kapiler janin yang dikelilingi oleh selapis tipis jaringan korion yang memisahkan darah janin dan darah ibu di ruangan antarvilus. Melalui sawar yang sangat tipis inilah semua bahan dipertukarkan antara darah ibu dan janin. Plasenta menghasilkan beberapa hormon yang membantu menjaga kehamilan, misalnya plasenta menghasilkan Human Chorionic Gonadotropin (HCG), yang mencegah indung telur dari telur melepaskan dan menstimulasi ovarium untuk menghasilkan estrogen dan progesterone. Keseluruhan sistem struktur ibu (desidua) dan janin (korion) yang saling mengunci ini membentuk plasenta.
Plasenta adalah organ yang berfungsi respirasi, nutrisi, ekskresi dan produksi hormon. Transfer zat melalui vili terjadi melalui mekanisme difusi sederhana, difusi terfasilitasi, aktif, dan pinositosis. Difusi sederhana misalnya pertukaran oksigen, difusi terfasilitasi misalnya difusi glukosa akibat perbedaan kadar glukosa antara ibu dan janin, transport aktif misalnya traspor as.amino dan vitamin, pinositosis misalnya traspor IgG, fosfolipid, dan lipoprotein.
Janin dan plasenta dihubungkan oleh tali pusar yang berisi oleh 2 arteri dan satu vena, vena berisi oleh darah penuh oksigen, sedangkan arteri yang kembali dari janin berisi darah kotor. Pada kehamilan aterm arus darah uteroplasenta berkisar 500-750 ml/menit, jika arus darah uteroplasenta berkurang misalnya pada pre-eklampsia mengakibatkan perkembangan janin terhambat. Konsep yang diterima saat ini, jika implantasi plasenta yang memang tidak normal sejak awal menyebabkan model arteri spiralis tidak sempurna (relatif kaku). Hal ini menyebabkan sirkulasi uteroplasenta  abnormal dan beresiko pre-eklampsia.
 
Gambar 9 plasenta normal dan abnormal
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta sebagian atau seluruhnya dari tempat implantasinya sebelum janin lahir yang implantasinya di atas 22 minggu. Solusio plasenta biasa juga disebut  placental abruption. Plasenta normalnya terlepas setelah anak lahir, pelepasan plasenta sebelum minggu ke-22 disebut abortus dan jika terjadi pelepasan plasenta pada plasenta yang rendah implantasinya disebut plasenta previa bukan solusio plasenta. Perdarahan akibat solusio plasenta biasanya merembes diantara selaput ketuban dan uterus,  kemudian  keluar melalui serviks, menyebabkan perdarahan eksternal (revealed hemorrhage). Terkadang darah tidak keluar tetapi tertahan di antara plasenta yang terlepas dan uterus, serta menyebabkan perdarahan tersembunyi (concealed hemorrhage). Solusio plasenta dapat total atau parsial. Solusio plasenta dengan perdarahan tertutup menimbulkan bahaya yang lebih besar bagi ibu, tidak saja karena kemungkinan koagulopati konsumtif tetapi juga karena jumlah darah yang keluar sulit diperkirakan. Solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa bagi ibu hamil dan janinnya. Pada perdarahan tersembunyi (concealed hemorrhage) yang luas di mana perdarahan retroplasenta yang banyak dapat mengurangi sirkulasi uteroplasenta dan menyebabkan hipoksia janin.
Fertilisasi terjadi jika sel telur bertemu dengan sel sperma. Pada manusia, proses tersebut didahului dengan proses senggama. Penis harus berada dalam keadaan tegak (ereksi ), agar dapat mengantarkan sperma ke dalam vagina.
Penis ereksi disebabkan oleh melebarnya arteri dan menutupnya pembuluh vena di penis. Dengan demikian ada banyak aliran darah yang masuk dan sedikit darah yang dikeluarkan (ditahan dalam pembuluh darah penis). Pembuluh darah juga akan memenuhi jaringan di dalam penis sehingga penis

mengalami pemanjangan dan berubah menjadi lebih keras. Jika penis sudah ereksi, proses senggama dapat dilakukan. Pada saat penis memasuki vagina, reseptor di penis akan menerima rangsangan sentuhan yang menyebabkan dikeluarkannya semen yang berisi jutaan sel sperma. Proses keluarnya semen tersebut dinamakan ejakulasi.

Pada lelaki normal, dalam satu kali ejakulasi akan dikeluarkan 300 juta – 400 juta sel sperma. Pergerakan sel sperma di dalam vagina dibantu oleh semen dan cairan pelicin yang dihasilkan oleh  cervix . Cairan pelicin tersebut akan disekresikan oleh kelenjar di cervix  jika seorang wanita telah siap melakukan senggama atau mendapat rangsangan seksual. Sel sperma akan berenang menuju oviduk atau tuba Fallopi tempat sel telur berada setelah masa ovulasi. Oviduk atau tuba Fallopi merupakan tempat fertilisasi pada manusia.
Pergerakan sel sperma didukung oleh ekor sperma yang banyak mengandung mitokondria penghasil ATP. Sel telur yang diovulasikan umumnya masih berada pada tahap meiosis II dan belum sepenuhnya menjadi oosit. Dengan adanya peleburan sel sperma, proses meiosis II dapat dipercepat. Sel telur yang telah siap dibuahi akan membentuk zona pelindung yang dinamakan corona radiata di bagian luar serta sebuah cairan bening di dalamnya yang disebut zona pelusida.
Sel sperma yang telah mencapai sel telur akan berlomba untuk dapat memasuki zona pelusida . Zona pelusida mempunyai reseptor yang bersifat “spesies spesifik”, yaitu hanya dapat dilalui oleh sel sperma dari satu species. Akrosom sperma mempunyai enzim litik yang mampu menembus corona radiata dan zona pelusida.


Gambar 10: Fertilisasi
Pada saat sel sperma menembus corona radiata, akrosom sperma akan meluluh. Sel telur kemudian akan segera menyelesaikan tahap meiosis II menghasilkan inti fungsional yang haploid. Bagian inti sel sperma ini kemudian bersatu dengan membran sel telur untuk melakukan fusi materi genetik. Gerakan ini mirip dengan mekanisme endositosis pada sel. Setelah terjadi peleburan atau fertilisasi ini, corona radiata akan menebal sehingga tidak ada lagi sel sperma lain yang dapat masuk. Pada saat ini sel tersebut sudah dibuahi dan berubah menjadi zigot. Zigot akan membelah secara mitosis menjadi  morula.
Zigot ini kemudian melakukan pembelahan sel selama perjalanannya di oviduk menuju rahim. Pergerakan zigot menuju rahim (uterus) tersebut memakan waktu 4 hari.  Dalam waktu 1 minggu, zigot telah berbentuk seperti bola yang dinamakan blastula . Blastula memiliki rongga yang disebut blastosol. Masa sel di bagian dalam blastosol, akan menjadi bakal embrio.
Bagian lengket dari blastosol tersebut kemudian akan menempel di endometrium. Proses tersebut dinamakan  implantasi . Blastula selanjutnya berkembang membentuk tiga lapisan, yaitu lapisan luar ( ektoderm ), lapisan tengah ( mesoderm), dan lapisan dalam (endoderm). Tahap ini disebut  gastrulasi yang terjadi sekitar minggu ketiga.
Selanjutnya, ektoderm akan membentuk sistem saraf, kulit, mata, dan hidung. Mesoderm membentuk otot, tulang, jantung, pembuluh darah, ginjal, limfa, dan organ reproduksi. Sementara itu, endoderm akan membentuk organ-organ serta kelenjar yang berhubungan dengan sistem pernapasan. Peristiwa ini disebut dengan  organogenesis . Organogenesis dimulai dari minggu keempat hingga minggu kedelapan dan penyempurnaan pada minggu kesembilan.
 
Gambar 11: Perkembangan Embrio
Embrio akan melepaskan hormon  corionic gonadotropin (hormon yang mirip dengan LH) yang akan dibawa ke ovarium untuk mencegah luluhnya corpus luteum. Dengan demikian, estrogen dan progesteron tetap dihasilkan sehingga dapat mempertahankan persiapan kehamilan di rahim dengan mempertahankan ketebalan endometrium. Dari manakah embrio memperoleh suplai makanan?
Kehamilan terjadi mulai dari fertilisasi hingga kelahiran. Pada manusia, rata-rata kehamilan terjadi selama 266 hari (38 minggu) dari fertilisasi atau 40 minggu dari siklus menstruasi terakhir hari pertama. Kelahiran bayi terjadi melalui serangkaian kontraksi uterus yang beraturan. Beberapa hormon, seperti estrogen, oksitosin, dan prostaglandin berperan dalam proses ini. Secara umum, proses kelahiran terjadi melalui tahap pembukaan cervix , tahap pengeluaran bayi, dan tahap pelepasan plasenta.
tahap kelahiran bayi

 Gambar 12: tahap kelahiran bayi
 D.   Siklus menstruasi dan gangguannya
Pada wanita pascapubertas memperlihatkan perubahan siklis yang berulang-ulang dalam aksishipothalamus-hipofisis-ovarium yang menyebabkan pematangan dan pelepasan gamet dari ovarium dan persiapan uterus untuk menunjang kehamilan jika terjadi fertilisasi. Pada keadaan tidak terjadi konsepsi, setiap siklus berakhir dengan perdarahan menstruasi.
Siklus menstruasi pada manusia dibagi menjadi empat fase berdasarkan perubahan fungsional dan morfologis di dalam ovarium dan endometrium, yaitu sebagai berikut:
  1. 1.         Fase Folikular
Pada siklus menstruasi 28 hari, fase ini meliputi 14 hari pertama. Pada siklus menstruasi yang lebih atau kurang dari 28 hari, adanya penyimpangan lamanya siklus tersebut terutama disebabkan oleh perbedaan lamanya fase folikular. 
Selama fase ini, sekelompok folikel ovarium akan lebih matang, walaupun hanya satu yang akan menjadi folikel dominan, yang disebut sebagai Folicle de graaf. 
Hari pertama perdarahan menstruasi ditetapkan sebagai hari pertama fase folikular. Selama 4 – 5 hari pertama fase ini, perkembangan folikel ovarium awal ditandai oleh proliferasi dan aktivitas aromatase sel granulosa yang diinduksi oleh FSH. FSH juga menstimulasi reseptor LH yang baru pada sel granulosa, yang kemudian memulai respon LH. 
Pada hari ke 5 – 7 siklus menstruasi, folikel dominan akan menjadi matang dan berovulasi antara hari ke-13 dan 15. Selama fase folikular tengah hingga akhir, kadar estradiol dan inhibin B yang terus meningkat dalam sirkulasi akan menekan sekresi FSH, sehingga mencegah tercetusnya folikel baru. Peningkatan estradiol dalam sirkulasi yang sangat tinggi dan terus menimbulkan efek yang tidak diharapkan pada kelenjar hipofisis yaitu lonjakan LH. 
  1. 2.       Fase Ovulatoir
Fase ini  ditandai oleh lonjakan sekresi LH hipofisis, yang memuncak saat dilepaskannya ovum yang matang melalui kapsul ovarium, yang disebabkan oleh konsentrasi estrogen plasma yang tinggi, yang menyebabkan frekuensi denyut sekresi GnRH pada hipothalamus meningkat, sehingga meningkatkan sekresi LH dan FSH. Kadar tersebut juga bekerja langsung pada Hipophisis anterior untuk secara spesifik meningkatkan kepekaan sel penghasil LH terhadap GnRH. Lonjakan LH ini hanya berlangsung satu atau dua hari pada pertengahan siklus, sesaat sebelum ovulasi. 
  1. 3.       Fase Luteal
LH “mempertahankan” Corpus luteum; yaitu setelah memicu perkembangan Corpus luteum, LH merangsang struktur ovarium ini untuk terus-menerus mengeluarkan progesteron dan estrogen, dengan jumlah progesteron jauh lebih besar. Kadar progesteron plasma meningkat untuk pertama kalinya selama fase luteal. Selama fase folikel tidak terjadi sekresi progesteron (kecuali sedikit dari folikel yang akan pecah di bawah pengaruh lonjakan LH). Oleh karena itu, fase folikel didominasi oleh estrogen, sedangkan fase luteal didominasi oleh progesteron. 
Penurunan sesaat kadar estrogen dalam darah terjadi pada pertengahan siklus sewaktu folikel penghasil estrogen mati. Kadar estrogen kembali naik selama fase luteal karena aktivitas Corpus luteum, walaupun tidak mencapai puncak yang sama seperti fase folikel.
Corpus luteum berfungsi selama dua minggu, kemudian berdegenerasi jika tidak terjadi pembuahan. Degenerasi Corpus luteum mengakhiri fase luteal dan menandai dimulainya fase folikel yang baru.
  1. 4.      Fase  Menstruasi
Fase menstruasi terdiri dari tiga fase yaitu :
  1.  Fase Menstruasi
Fase ini ditandai oleh pengeluaran darah dan debris endometrium dari vagina. Fase ini bersamaan dengan berakhirnya fase luteal ovarium dan permulaan fase folikel. Sewaktu Corpus luteumberdegenerasi karena tidak terjadi pembuahan dan implantasi ovum yang dikeluarkan dari siklus sebelumnya, kadar estrogen dan progesteron di sirkulasi turun drastis. Karena efek netto estrogen dan progesteron adalah mempersiapkan endometrium untuk implantasi ovum yang dibuahi, penarikan kembali kedua hormon steroid tersebut menyebabkan lapisan endometrium yang kaya akan nutrisi dan pembuluh darah itu tidak lagi ada yang mendukung secara hormonal. Penurunan kadar hormon-hormon ovarium itu juga merangsang pengeluaran prostaglandin uterus yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh-pembuluh endometrium, sehingga aliran darah ke endometrium terganggu. Perdarahan yang timbul melalui disintegrasi pembuluh darah itu membilas jaringan yang mati ke dalam lumen uterus.
Penurunan estrogen dan progesteron akibat degenerasi Corpus luteum secara simultan menyebabkan terlepasnya endometrium dan perkembangan folikel-folikel baru di ovarium di bawah pengaruh hormon-hormon gonadotropin yang kadarnya kembali meningkat. Penurunan sekresi hormon gonad meningkatkan efek inhibisi pada hipothalamus dan hipophisis anterior, sehingga sekresi FSH dan LH, folikel-folikel yang baru berkembang mengeluarkan cukup banyak estrogen untuk mendorong pemulihan dan pertumbuhan endometrium.
  1.   Fase Proliferasi
Fase ini dimulai bersamaan dengan bagian terakhir fase folikel ovarium pada saat endometrium mulai mamperbaiki dirinya dan mengalami proliferasi di bawah pengaruh estrogen yang berasal dari folikel-folikel yang baru yang sedang tumbuh. Sewaktu darah haid berhenti, di uterus tertinggal satu lapisan endometrium setebal < 1 mm. Estrogen merangsang proliferasi sel epitel, kelenjar, dan pembuluh darah di endometrium sehingga ketebalan lapisan ini dapat mencapai 3 – 5 mm. Fase proliferatif yang didominasi oleh estrogen berlangsung dari akhir haid sampai ovulasi. Kadar estrogen puncak memicu lonjakan LH yang menyebabkan ovulasi.
  1.  Fase Sekresi
Fase ini bersamaan waktunya dengan fase luteal ovarium. Corpus luteum mengeluarkan sejumlah besar progesteron dan estrogen. Progesteron bekerja pada endometrium tebal yang sudah dipersiapkan oleh estrogen untuk mengubahnya menjadi jaringan yang kaya akan pembuluh dan glikogen, disebut fase sekretorik karena kelenjar-kelenjar endometrium secara aktif mengeluarkan glikogen, atau fase progestasional (sebelum kehamilan), dalam kaitannya dengan pembentukan lapisan endometrium subur yang mampu menunjang perkembangan mudgah. Jika tidak terjadi pembuahan dan implantasi, Corpus luteum berdegenerasi, dan fase folikel dan fase haid kembali dimulai.
Siklus Menstruasi

 Gambar 13 Siklus Menstruasi
Gangguan menstruasi
amenore adalah tidak haid lebih dari 3 bln berturut-turut. Amenore dapat dibagi dalam dua bentuk :

a. Amenore fisiologik :

1) Prapubertas / pasca menopause
2) Hamil, laktasi
b. Amenore patologik :
1) Amenore primer
2) Amenore sekunder

Dismenore
Dismenore atau nyeri haid adalah nyeri yang timbul akibat kontraksi uterus dengan satu atau lebih gejala seperti nyeri ringan sampai berat pada perut bagian bawah, bokong, dan nyeri spasmodik pada otot paha.
a.    Klasifikasi dismenorea
1)     Dismenore primer
2)     Dismenore sekunder
b.    Penyebab dismenorea
1)     Dismenore primer : berhubungan dengan faktor intrinsik, ketidak seimbangan steroid seks ovarium tanpa kelainan oganik dalam pelvis.
2)     Dismenore sekunder : berhubungan dengan patologi uterus misalnya endometriosis, kista ovarium, Kontrasepsi dalam rahim, kelainan bentuk dan letak uterus.
c.    Gejala dismenorea:
1)    Dismenore primer
a)     Usia lebih muda
b)    Timbul segera setelah siklus haid teratur
c)     Nyeri berupa kejang utrerus
d)    Nyeri mendahului haid, meningakt pada hari pertama dan kedua haid
e)     Tidak ditemukan patologis pelvis
f)     Mempunyai respon terhadap terapi medis
g)    Pemeriksaan pelvis normal
2)    Dismenore sekunder
a)     Usia lebih muda
b)    Nyeri terasa terus menerus
c)     Nyeri pada saat haid, meningkat bersamaan dengan keluarnya darah
d)    Berhubungan dengan kelainan pelvis
e)     Tidak berhubungan dengan adanya ovulasi
f)     Sering membutuhkan tindakan operative
E. Kontrasepsi
Peningkatan kadar prolaktin dan penurunan GnRH dari hipotalamus selama menyusui dapat menekan proses ovulasi. Hal ini menyebabkan pelepasan dan penghambatan pematangan folikel. Durasi penekanan ini bervariasi dan dipengaruhi oleh frekuensi dan lamanya menyusui dan lamanya waktu sejak lahir, yaitu 6 bulan setelah persalinan. Ibu tidak bisa menggunakan metode ini bila bayinya hanya disusui selama 3 – 4 jam siang hari dan mendapat makanan tambahan sebagai pendamping ASI.
Menyusui eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang cukup efektif, selama klien belum mendapat haid dan waktunya kurang dari enam bulan pasca persalinan. Efektifnya dapat mencapai 98%. MAL efektif bila menyusui lebih dari delapan kali sehari dan bayi mendapat cukup asupan per laktasi. 
Pada wanita pospartum konsentrasi esterogen, progesteron, dan prolaktin (PRL) yang tinggi selama kehamilan turun secara drastis. Tanpa menyusui, kadar gonadotropin meningkat pesat, konsentrasi PRL kembali ke normal dalam waktu sekitar 4 minggu dan pada minggu ke-8 pascapartum, sebagian besar wanita yang memberi susu formula pada bayinya memperlihatkan tanda-tanda perkembangan folikel dan akan berevolusi tidak lama kemudian.

Sebaliknya, pada wanita yang menyususi, konsentrasi PRL tetap meninggi selama pengisapan sering terjadi dan pada setiap kali menyusui terjadi peningkatan sekresi PRL secara akut. Walaupun konsentrasi Follicle Stimulating Hormone (FSH) kembali ke normal dalam beberapa minggu pascapartum, namun konsentrasi Luteinizing Hormone (LH) dalam darah tetap tertekan sepanjang periode menyusui. Yang penting, pola pulsasi normal pelepasan LH mengalami gangguan dan inilah yang diperkirakan merupakan penyebab mendasar terjadinya penekanan fungsi normal ovarium. Wanita yang menyusui bayinya secara penuh atau hampir penuh dan tetap amenore memiliki kemungkinan kurang dari 2 % untuk hamil selama 6 bulan pertama setelah melahirkan.

Keuntungan
Untuk Bayi :
1.      Mendapat kekebalan pasif (mendapat antibody perlindungan lewat ASI).
2.      Sumber asupan gizi yang terbaik dan sempurna untuk tubuh kembang bayi yang optimal.
3.      Terhindar dari keterpurukan terhadap kontaminasi dari air susu lain atau formula atau alat minum yang dipakai.
Untuk Ibu :
1.      Mengurangi resiko anemia
2.      Meningkatkan hubungan psikologi ibu dan bayi
3.      Menghemat pengeluaran keluarga untuk membeli susu formula.
Kekurangan:
1. Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui dalam 30 menit pasca persalinan
2. Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial
3.  Efektifitas tinggi hanya sampai kembalinya haid sampai dengan 6 bulan
4.  Tidak melindungi terhadap IMS termasuk hepatitis B/HBV dan HIV/AIDS
Kontrasepsi adalah suatu cara yang bertujuan mencegah terjadinya pembuahan. Kontrasepsi
memiliki beberapa metode, antara lain:
1. Tanpa alat bantu
Kontrasepsi dengan cara tidak melakukan koitus pada masa subur wanita (hari 12 – 16 siklus haid). Cara ini dikenal dengan nama sistem kalender atau abstinensi.
2. Menggunakan alat bantu
Pada cara ini, mencegah pertemuan ovum dengan spermatozoa, dapat dilakukan dengan berbagai alat bantu, misalnya: kondom, spiral, jelly, dan lain-lain.
Kontrasepsi dengan menggunakan alat bantu dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Secara mekanik, yaitu dengan cara mencegah bertemunya sperma dengan ovum. Pada laki-laki menggunakan kondom, sedangkan pada wanita bisa menggunakan diafragma, spiral, IUD (Intra Uterine Device).
b. Secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan spermisida senyawa kimia yang dapat membunuh sel-sel sperma. Misalnya bisa berbentuk jelly, busa, dan lain-lain.
c. Secara hormonal, yaitu dengan cara memengaruhi kesuburan wanita, misalnya dengan KB suntik, susuk dan pil KB. Bahkan kini juga sudah dikembangkan teknik hormonal (pada laki-laki).
3. Sterilisasi
Sterilisasi dilakukan dengan mengikat/me motong saluran vas deferens dikenal dengan istilahvasektomi, atau mengikat/memotong tuba fallopii dikenal dengan istilah tubektomi
Bertujuan untuk mencegah bertemunya sel sperma dengan sel ovum sehingga tidak terjadi fertilisasi. Macam cara dalam kontrasepsi adalah :
1. Sistem kalender yaitu dengan memperhatikan masa subur wanita.
2. Secara hormonal yaitu menghambat/menghentikan proses ovulasi.
3. Kimiawi yaitu dengan menggunakan zat-zat kimia. Seperti spermatosida untuk pria, vaginal douche untuk wanita.
4. Mekanik yaitu dengan menggunakan alat-alat kontrasepsi.
5. Sterilisasi yaitu dengan membuat setril organ-organ reproduksi bagian dalam. Seperti vasektomi untuk pria dan tubektomi untuk wanita.
Gambar 14 Berbagai macam kontrasepsi
 F.Kelainan pada sistem reproduksi
Sistem reproduksi manusia dapat mengalami gangguan, baik disebabkan oleh kelainan maupun penyakit. Gangguan sistem reproduksi dapat terjadi baik pada wanita maupun pria.Gangguan pada sistem reproduksi wanita dapat berupa gangguan menstruasi, kanker genitalia, endometriosis, dan infeksi vagina.
a. Gangguan menstruasi
Gangguan menstruasi terdiri atas amenore primer dan amenore sekunderAmenore primer adalah tidak terjadinya manarkhe (menstruasi) sampai usia 17 tahun dengan atau tanpa perkembangan seksual sekunder. Amenore sekunder adalah tidak terjadinya menstruasi selama 3 – 6 bulan atau lebih pada orang yang telah mengalami siklus menstruasi.
b. Kanker genitalia
Kanker genitalia pada wanita dapat terjadi pada vagina, serviks, dan ovarium. Kanker vagina tidak diketahui penyebabnya, mungkin karena iritasi yang disebabkan oleh virus. Pengobatannya dengan kemoterapi dan bedah laser. Kanker serviks terjadi bila pertumbuhan sel-sel yang abnormal di seluruh
lapisan epitel serviks. Penanganannya dengan pengangkatan uterus, oviduk, ovarium, sepertiga bagian atas vagina, dan kelenjar limfa panggul.Kanker ovarium gejalanya tidak jelas. Biasanya dapat berupa rasa pegal pada panggul, perubahan fungsi saluran pencernaan, atau mengalami pendarahan vagina abnormal. Penanganannya dengan kemoterapi dan pembedahan.
c. Endometriosis
Endometriosis adalah keadaan di mana jaringan endometrium terdapat di luar rahim, yaitu dapat tumbuh di sekitar ovarium, oviduk, atau jalur di luar rahim. Gejalanya berupa nyeri perut, pinggang terasa sakit, dan nyeri pada saat menstruasi. Jika tidak ditangani akan menyebabkan sulit terjadinya kehamilan. Penanganannya dengan pemberian obat-obatan, laparoskopi, atau bedah laser.
d. Infeksi vagina
Gejalanya berupa keputihan dan timbul gatal-gatal. Infeksi ini menyerang wanita usia produktif terutama yang menikah. Penyebabnya adalah akibat hubungan kelamin.
2. Gangguan pada sistem Reproduksi Pria
Gangguan pada sistem reproduksi pria dapat berupa hipogonadisme, kriptorkidisme, prostatitis, epididimitis, dan orkitis.
a. Hipogonadisme, merupakan penurunan fungsi testis yang disebabkan oleh gangguan interaksi hormon, seperti hormon androgen dan estrogen. Gangguan ini menyebabkan infertilitas, impotensi, dan tidak adanya tanda-tanda kepriaan. Penanganannya dapat dilakukan dengan terapi.
b. Kriptorkidisme, merupakan kegagalan dari satu atau kedua testis untuk turun dari rongga abdomen ke dalam scrotum pada waktu bayi. Penangannya dapat dilakukan dengan pemberian hormon human chorionic gonadotropin untuk merangsang testoteron.
c. Uretritis, peradangan uretra dengan gejala rasa gatal pada penis dan sering buang air kecil. Penyebabnya adalah Chlamydia trachomatis, Ureplasma urealyticum, atau virus herpes.
d. Prostatitis, merupakan peradangan prostat. Penyebabnya adalah bakteri Escherichia coli ataupun bukan bakteri.
e. Epididimitis, merupakan infeksi yang sering terjadi pada saluran reproduksi pria. Penyebabnya adalah E. coli dan Chlamydia.
f. Orkitis, merupakan peradangan pada testis yang disebabkan oleh virus parotitis. Jika terjadi pada pria dewasa dapat menyebabkan infert
Karsinoma prostat merupakan suatu tumor ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat. Karsinoma prostat merupakan keganasan saluran kemih kedua paling sering dijumpai sesudah keganasan kandung kemih.95% di antara kanker prostat adalah adenokarsinoma.
Tumor ini menyerang pasien yang berusia di atas 50 tahun, di antaranya 30% menyerang pria berusia 70-80 tahun dan 75% pada usia lebih dari 80 tahun. Kanker ini jarang menyerang pria sebelum berusia 45 tahun.2kanker prostat merupakan penyebab  kematian nomor tiga akibat kanker pada pria dan merupakan penyebab utama kematian akibat kanker pada pria di atas 74 tahun.
Insidens karsinoma prostat akhir-akhir ini mengalami peningkatan karena meningkatnya usia harapan hidup, penegakan diagnosis yang menjadi lebih baik, dan kewaspadaan tiap-tiap individu mengenai adanya keganasan prostat makin meningkat karena informasi dari majalah, media elektronik atau internet.
ETIOLOGI DAN PATOGENESIS
Penyebabnya belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab timbulnya adenokarsinoma prostat, yaitu predisposisi genetik, pengaruh hormonal, diet, pengaruh lingkungan dan infeksi. Kemungkinan untuk menderita kanker prostat menjadi dua kali jika saudara laki-lakinya menderita penyakit ini. Kemungkinannya naik menjadi lima kali jika ayah dan saudaranya juga menderita. Hal ini menunjukkan adanya faktor genetik yang melandasi terjadinya kanker prostat.
Pria yang memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker prostat adalah pria kulit hitam yang berusia di atas 60 tahun, petani, pelukis dan pemaparan kadmium. Kanker prostat ternyata lebih banyak diderita oleh bangsa Afrika-Amerika yang berkulit hitam daripada bangsa kulit putih. Pada penelitian lain didapatkan bahwa bangsa Asia lebih sedikit menderita penyakit ini. Namun mereka yang pindah ke Amerika mendapatkan kemungkinan lebih besar menderita kanker ini daripada mereka yang tetap tinggal di negara asalnya. Ini menunjukkan bahwa pengaruh lingkungan dan kebiasaan hidup sehari-hari juga berperan dalam patogenesis penyakit ini. Pemaparan kadmium (Cd) yang banyak terdapat pada alat listrik dan baterai berhubungan erat dengan timulnya kanker prostat.
Pertumbuhan dan perkembangan keganasan prostat bergantung pada hormon androgen. Hal ini tidak berarti bahwa karsinoma prostat disebabkan oleh hormon androgen. Banyak keganasan prostat yang sensitif terhadap hormon.Selain itu, perlu diketahui bahwa tidak ada hubungan antara hiperplasia prostat jinak dengan perkembangan ke arah keganasan.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara diet tinggi lemak dan peningkatan kadar hormon testosteron.Diet yang banyak mengandung lemak, seperti susu yang berasal dari binatang, daging merah, dan hati diduga meningkatkan kejadian kanker prostat.
Kanker prostat dikelompokkan menjadi:
–  Stadium A : benjolan/tumor tidak dapat diraba pada pemeriksaan fisis, biasanya ditemukan secara tidak sengaja setelah pembedahan prostat karena penyakit lain.
–  Stadium B : tumor terbatas pada prostat dan biasanya ditemukan pada pemeriksaan fisik atau tes PSA.
–  Stadium C : tumor telah menyebar keluar dari kapsul prostat tetapi belum sampai menyebar ke kelenjar getah bening.
– Stadium D : Kanker telah menyebar (metastase) ke kelenjar getah bening regional maupun bagian tubuh lainnya (misalnya tulang dan paru-paru).
Sumber : https://aimarusciencemania.wordpress.com


Demikianlah Artikel Struktur dan Fungsi Sel Pada Sistem Reproduksi

Sekian artikel Struktur dan Fungsi Sel Pada Sistem Reproduksi kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Struktur dan Fungsi Sel Pada Sistem Reproduksi dengan alamat link http://www.dunia-mulyadi.com/2015/04/struktur-dan-fungsi-sel-pada-sistem_17.html

0 Response to "Struktur dan Fungsi Sel Pada Sistem Reproduksi"

Post a Comment

Terimakasih atas Kunjungannya serta Komentarnya.....Jangan Lupa Like and Sharenya Thanks......